“Tatak”, atau tarian sebagaimana didaerah lain di Indonesia sebagai kekayaan khasanah budaya bangsa juga terdapat di daerah Pakpak. Pada masyarakat Pakpak “tatak” atau tarian merupakan unsur kesenian penting yang hadir dalam aktivitas keseharian masyarakatnya. Berbagai kegiatan kemasyarakatan baik dalam acara-acara adat apalagi acara-acara ritual sebelum kehadiran Agama “tatak” akan selalu tampak. Oleh karenanya, dia merupakan bagian dari perlaku masyarakatnya yang selalu terimplementasi dalam kehidupan keseharian. Kini meski dengan pemaknaan yang mungkin berbeda, upacara ritual tetap dilakukan sebagai cerminan berbagai simbol kebudayaan. Upacara yang masih dilakukan misalnya menanda tahun, ketika musim tanam hendak dimulai. Dengan demikian tentu pula, tatak masih tetap ada dan eksist.
Sebagai salah satu etnis di Indonesia khususnya di Sumatera Utara Pakpak memiliki berbagai jenis tarian, baik tarian adat dan tarian muda-mudi atau bersifat hiburan. Tarian adat umumnya diperlihatkan secara otomatis pada upacara-upacara adat baik “kerja baik” maupun “kerja Njahat” (Acara suka maupun duka). Acara suka khususnya dalam “ulan merbayo” atau pesta perkawinan akan ada bagian dari episode acara menampilkan tarian. Pada saat menyambut kehadiran pihak “puang” atau “kula-kula” (kerapat pihak perempuan), pada saat menyambut “dengan sibeltek atau sinina” (Kerabat ahli bait) dan juga “berru”. Dalam acara Kerja Njahat apalagi. Tatak menjadi menu utama. Kerja Njahat dimaksud misalnya pada acara duka cita, meninggalnya seseorang yang sudah berusia lanjut atau tua yang lazim disebut ncayur tua, mengkurak tulan atau merngangkat tulang-tulang orang tua yang sudah lama meninggal, pendirian tugu ( penangkihken tulan mi jerro) dan lain-lain. Segala bentuk penghormatan terhadap kehadiran setiap para pihak baik puang kula-kula, dengan sebeltek, berru, bere, buberre, sipemerre, sinina dan semua kerabat ditandai dengan tatak. Belum lagi bahwa sebelum orang tua dimakamkan, maka akan diantarkan melalui tarian “sisangkar laus” sebagai tarian penutup. Oleh karena itu keberadaan tatak adat jauh lebih tua dibanding dengan tatak muda-mudi.
Sementara itu Tatak muda-mudi ( hiburan ) keberadaannya tampaknya relatif baru. Bahklan baru populer di tahun enam puluhan. Jaman dahulu tidak terlalu banyak tarian yang berkonotasi sebagai tarian muda-mudi, ada beberapa seperti “ndembass”. Namun sejak enampuluhan berbagai jenis tatak bermunculan. Meskipun pada dasarnya diangkat atau dikareografi dari tarian mada masa dulu. Tidak dapat dikatakan sepenuhnya baru, tetapi mungkin bentuk dan formasinya tergolong baru. Tarian jenis inilah yang kini lebih dikenal, dibanding akar tariannya. Beberapa yang cukup terkekal diantaranya tatak garo-garo, tatak tintoa serser, tatak menabi page, tatak menulangat dan lain-lain beberapa jenis tarian ini juga akan dicoba diperkenalkan pada buku ini.
Meski demikian, tatak adat dan tatak muda mudi sebagaimana berlaku pada etnis lainnya di indonesia, kini lebih bersifat menghibur dan oleh karenanya tatak adat juga menjadi salah satu mata acara dalam event-event yang bersifat hiburan. Tatak adat tidak lagi semata-mata diterjemahkan sebagai bentuk pemujaan, tetapi sebagai bentuk penghormatan dan simbol-simbol berbagai bentuk ritual lainnya.
Sejarah Tatak Menabi Page
Dalam bahasa Pakpak istilah tari disebut dengan Tatak. Dalam masyarakat Pakpak terciptanya Tatak berdasarkan dari kegiatan masyarakat pada zaman dahulunya. Salah satu tari yang dikenal sebagai bagian dari kegiatan masyarakat Pakpak adalah Tatak Menabi Page. Tatak Menabi Page adalah bagian yang diambil dari kata kerja Merani Page. Dimana Merani Page adalah sebuah istilah ajakan yang dipakai masyarakat Pakpak dalam kegiatan saat musim panen padi. Menabi page terdiri atas dua suku kata, yaitu kata menabi diartikan sebagai memotong sedangkan Page diartikan sebagai padi, maka Menabi Page diartikan sebagai suatu kegiatan memotong padi yang siap untuk dipanen.
Tatak Menabi Page diartikan sebagai tari kreasi yang mentradisi, yang menceritakan tentang proses kerja panen padi mulai dari berjalan dari rumah ke ladang, memotong padi, mengangkat padi yang sudah dipotong disusun ke dalam satu tumpukan, melepaskan bulir padi dengan cara digesek, memisahkan batang padi dengan biji padi, memisahkan daun-daun atau jenis lainya dengan biji padi, masukan padi ke dalam bakul besar serta gerakan menjunjung bakul besar untuk para wanita, memikul padi untuk para pria berjalan ke rumah. Tatak menabi page merupakan tarian yang ditarikan oleh kaum muda-mudi yang menggambarkan suasana kegembiraan pada saat kerja panen padi.
Masyarakat Pakpak dahulunya dikenal dengan kepribadian yang suka membantu dalam melakukan suatu bekerjaan. Di mana sikap tolong-menolong ini dilakukan secara bergotong-royong. Biasanya kegotong-royongan ini dilakukan pada kegiatan besar seperti, pada acara pesta adat, berladang serta proses kerja panen. Hal ini bila dikaitkan dengan Tatak Menabi Page, bahwa di dalam tarian ini juga menggambarkan tentang bagaimana sikap kerja sama masyarakat Pakpak dalam kerja panen padi.
Sistem kerja bergotong royong ini dilakukan secara bergantian. Dahulunya jikalau musim panen tiba, masyarakat Pakpak akan melakukan musyawarah terlebih dahulu sehari sebelum musim panen tiba, untuk melakukan kerja sama, di mana pada kerja panen dilakukan dari ladang satu ke ladang lainya secara terus menerus. Saat proses kerja panen masyarakat Pakpak terbiasa melakukan pekerjaan tanpa mengaharapkan upahan, dikarenakan masyarakat Pakpak lebih mengedepankan sikap rasa saling membantu.
Berdasarkan atas apa yang sudah dijabarkan di atas, maka seorang seniman terkenal asal Pakpak Bharat yaitu Bapak Atur Pardapotan Solin. Beliau adalah Pengurus Lembaga Kebudayaan Pakpak yang menjabat sebagai Ketua I Departemen Seni dan Budaya (PB-LKP). Bapak Artur adalah seniman yang menciptakan Tatak Menabi Page, di mana beliau melihat semangat kerja sama masyarakat Pakpak saat bekerja penen sangat besar, sehingga hal ini membuat beliau ingin mengapresiasikan proses kerja panen tersebut ke dalam sebuah tarian. Beliau berharap dengan terciptanya tarian ini dapat menjadi cerminan akan masyarakat Pakpak dahulu pada saat bekerja harus tolong menolong
Komentar
Posting Komentar